Tentang Mahar

Lalu saya terpikir tentang sesuatu yang sakral dalam pernikahan. Sesuatu yang mesti ada, dan mesti terpenuhi : Mahar.

Dalam budaya, mahar memang lebih sering diidentikan dengan perhiasan emas. Meskipun ada yang meminta hafalan Qur’an, buku, atau apapun. Tergantung wanitanya. Saya pribadi berpikir ingin logam mulia sebagai mahar. Bukan tanpa alasan, hanya saja, bagi saya, satu cincin saja sudah cukup. Di samping itu, saya tak bisa memakai perhiasan, kulit saya gatal setiap kali memakai gelang atau kalung. Jangan tanya tentang anting-anting, orang tua saya bilang, saat kecil telinga saya infeksi karena anting-anting. Maka tak ada anak perempuan di keluarga saya yang menggunakan perhiasan.

Jika dikatakan tak apa perhiasan, setidaknya bisa untuk disimpan. Menurut saya logam mulia lebih bisa disimpan. Jadi sama saja. Agak mubadzir rasanya menyimpan sesuatu yang tak mungkin saya gunakan.

Pernah dikatakan, bahwa wanita yang baik adalah yang maharnya mudah. Mudah. Tak selalu setiap yang mudah adalah murah. Namun juga harus menjadi perhatian, bahwa lelaki yang baik takkan memberikan mahar yang terlalu murah.

Mengapa harus emas? Mengapa sebagian wanita meminta mahar yang tinggi? Bukankah itu menyulitkan dan materialistis?

Pada akhirnya, saya mulai memahami, bahwa mahar tak hanya sekedar nominal. Ada perjuangan disana. Ada pesan cinta disana. Ada romantisme yang akan selalu dikenang disana. Setiap wanita menyukai pria yang gagah. Dan pria yang berjuang selalu tampak gagah.

Percaya saja pada wanitamu, seperti wanitamu berusaha untuk mempercayai kemampuanmu. Suatu hari, pada satu masa sulit, mahar itu akan ia kembalikan lagi padamu dengan sukarela. Tak ada yang terlalu mahal bagi wanita yang jatuh cinta, jadi tolonglah, jangan menghargainya terlalu murah.

Seorang wanita, rela merombak ulang cita-citanya untuk mendukung cita-citamu. Rela mendefinisikan ulang bahagianya, untuk kebahagiaanmu. Mungkin laki-laki pun juga begitu. Namun, yang tersulit adalah… seorang laki-laki akan selalu jadi anak ibunya sampai kapanpun. Sementara seorang wanita, akan merubah status “anak orangtua”-nya, menjadi “istri” dan juga “ibu” bagi anak-anakmu.

Lalu dengan apa kamu mampu menenangkan hati orangtua yang akan melepas anaknya ke tanganmu? Bukan tentang besaran nominalnya, tapi tentang semampu apa kamu berusaha. Mungkin hampir semua mahar akan terasa berat bagi laki-laki. Namun, seharusnya tak ada yang terlalu berat bagi orang yang benar-benar serius akan cinta.

Hanya mengambil pokok syariat, mungkin seperti mencoba lulus hanya dengan nilai dasar. Ya, kamu akan tetap lulus, namun lulusan yang seperti apa?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s