Tentang Rindu tanpa Hujan

Rindu, selalu saja disaudarakan dengan hujan. Hujan membawa rindu, hujan menyuburkan bibit rindu, atau rindu yang menguat bersama hujan? Ntahlah, hanya rindu, paling nyaman dinikmati bersama hujan.
Simfoni hujan, malam, wangi kopi, dan pikirku yang langsung memanggilmu datang. Tapi hanya rindu yang bertandang. Itu kombinasi yang wajar.

Tapi kali ini tidak. Ini siang. Tidak ada wangi kopi, tidak ada hujan, bahkan tak ada lagu cinta di latar belakang. Aku tengah duduk di dalam mobil, di tengah terik Jakarta, menuju lokasi meeting dengan klien. Bukan jalan yang pernah kita lewati berdua pula. Tak ada sejumput pun faktor penyemai rindu.

Lalu tiba-tiba saja, aku ingin kamu di sampingku.

Jika benar rindumu bisa terbaca dari rinduku, apa saat ini kamu tengah merindukanku?

“Selalu,” itu jawabanmu biasanya, “Selalu rindu, selalu sangat”.

Dan air mataku jatuh. Bagaimana aku tak merindukan seseorang yang merindukanku dengan sangat?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s