Tentang Menunggu yang Kesekian

Pada dasarnya, aku tak hendak menunda lama.
Pada dasarnya, aku tak terlalu mengharapkan kelimpahan harta.
Pada dasarnya, wanita mana yang ingin berlama-lama berpisah dengan orang yang telah disayanginya.

Tapi kupikir, menunggu sejenak lagi pun tak apa. Aku tak berencana menunggunya hingga satu tahun. Cukup beberapa pekan saja. Jika dia menunjukkan itikad baik lagi, aku juga akan mengusahakannya. Pernikahan ini, bukan sekedar keinginannya. Aku cukup tahu diri, bahwa pernikahan ini adalah juga harapanku.

Dan aku juga menyadari sepenuhnya, bahwa masih ada kehidupan lain setelah sebuah pernikahan selesai dilangsungkan. Tentang biaya dan teknis lainnya hanyalah ujian yang remeh saja dibandingkan sebuah restu dan juga kehidupan setelahnya.

Tapi bila kita berdua tak mampu melaluinya, mungkin sebenarnya kita belum benar-benar siap melangkah. Atau…mungkin kita hanya tak cocok saja? Tapi itu kemungkinan terburuknya. Saat ini, dapat menghabiskan hidup denganmu, masih jadi pilihan utama. Dan aku masih ingin mengusahakannya. Tentu saja kalau kamu juga mengusahakan hal tersebut.

Kenapa di matamu aku hanya terlihat diam?
Sebab aku perempuan, dan kamu laki-laki. Aku menahan diri sebisaku untuk tak terlalu mendominasi, untuk tak mendiktemu setiap bagian. Untuk membiarkanmu berjuang banyak dan tampak keren di mataku. Aku ingin kamu berharga, aku ingin kamu memiliki “nilai” di mata keluargaku. Aku ingin memberimu ruang untuk berfikir dan membebaskan gerakmu. Apa caraku salah?

Aku tahu, di antara kita berdua, memang aku yang telah bekerja, dan kamu masih mencari. Aku sudah mencoba membuatmu tak khawatir dengan mengatakan, “tak apa.” berharap kamu termotivasi dan bersemangat karena merasa keputusanmulah yang membuatmu berusaha, bukan desakanku.
Aku ingin kamu membahagiakanku tanpa perlu kuminta, dan sesederhana apapun hasilmu, aku akan mencoba mensyukuri. Setiap pencapaianmu, sesederhana apapun, akan kujadikan alasan untuk bahagia. Bukankah aku bahkan pernah mengutarakan bahagia hanya karena kamu menceritakan rencanamu?
Sesederhana itulah bahagiaku, karena itu jangan buat aku meminta.

Aku menyesali kalimat yang kuucapkan kemarin, aku tahu tak sepantasnya aku mengatakan hal seperti itu.
Namun di sisi lain, aku rasa kamu juga perlu memahami, bahwa aku tak tahu lagi bagaimana mengutarakan padamu dengan tak lugas?
Bukan nominal yang kuminta, tapi keyakinan. Lalu kita coba cari jalan keluarnya bersama. Atau setidaknya, katakan saja “Akan kucoba,” setelahnya kamu mau mengatakan “tapi aku belum tau caranya” pun tak masalah. Tapi jangan mengatakan, “Itu bukan suatu keharusan. Bukan kewajiban secara syariat”. Kalimat itu yang akhirnya membuatku mengatakan hal yang mungkin membuatmu terluka. Bagaimanapun, aku meminta maaf karena telah mengucapkannya.

Jadi, jika sebenarnya kau hanya belum siap secara finansial yang membuatmu tak siap secara mental, maka biar kutunggu kau beberapa waktu lagi. Dan bila sebenarnya kau mengucapkan itu hanya karena emosimu kepadaku, karena kaget dengan nominal yang begitu besar, maka kutunggu kau beberapa waktu lagi.
Dibanding kesiapan finansial, aku lebih menunggu bukti kedewasaanmu, kesiapan mentalmu. Kutunggu kau beberapa pekan, bila dalam beberapa pekan kamu masih tak menunjukkan perkembangan, usahamu masih tetap sama seperti saat ini, mungkin aku terpaksa harus mengambil keputusan sulit.

Sebab kamu laki-laki, dan aku bukan perempuan yang sangat kuat untuk mampu menuntunmu seumur hidup. Aku juga bukan perempuan yang mampu menahan harapan dan pasrah pada kondisi selamanya. Kau mungkin menganggapku tak bersyukur, itu pilihanmu. Tapi bila kita memang ditakdirkan untuk menyelesaikan banyak hal bersama, aku harap suatu hari kamu akan paham apa yang kumaksudkan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s